by

TOKOH SENTRAL

-TOKOH-78 views

ORGANISASI RIFA’IYAH

 Biografi Syekh Ahmad Rifa’ie

Tokoh sentral Rifaiyah, Syekh Ahmad Rifa’ie, adalah cucu KH Abu Sudja (Raden Sutjowidjoyo), Penghulu Landrat Kabupaten Kendal yang berasal dari keraton Yogyakarta. Syekh Ahmad Rifa’ie dilahirkan di Kendal tanggal 9 Muharrom 1200 H (1786 M). Ayahnya bernama KH Muhammad bin Abu Sudja dan ibunya bernama Siti Rochmah. Ketika berusia 6 tahun ayahnya meninggal, kemudian diasuh oleh kakeknya selama dua tahun. Setelah kakeknya meninggal tinggal bersama kakak perempuannya bernama Nyai Radjiyah, isteri KH Asy’ari, pendiri pesantren Kaliwungu. Di tempat inilah Ahmad Rifa’ie dibesarkan hingga menjadi dewasa dan menjadi ulama muda yang energik.

  1. Gurunya di Tanah Jawa

Guru Syekh Ahmad Rifa’ie di tanah Jawa ialah KH Asy’ari, seorang ulama Dalem Keraton Mataram Yogyakarta. KH Asy’ari dilahirkan di Wanantara Yogya pada tahun 1746. Nama lengkapnya Asy’ari bin Ismail bin H Abdurrahman bin Ibrahim. Silsilah nasabnya sampai kepada Sayidina Ali. KH Asy’ari lebih dikenal dengan nama Kyai Guru, beliau datang ke Kaliwungu pada tahun 1781 atas perintah Sultan Mataram untuk mendirikan pesantren. Sebelumnya beliau mendalami ilmu-ilmu agama di Mekah selama 10 tahun.

KH Asy’ari mengenal KH Abu Sudja beserta putra-putri dan cucu-cucunya dengan baik mengingat keduanya sebagai pengemban amanat dari dari Sultan Mataram. Pada tahun 1786, ketika usianya mencapai 40 tahun, KH Asy’ari menikah dengan cucu KH Abu Sudja bernama Nyai Radjiyah binti Muhammad bin Abu Sudja. Beliaulah kelak yang mengasuh dan mendidik Ahmad Rifa’ie hingga menjadi ulama muda yang terkenal wara, cerdas, tegas, kreatif dan berani.

Pada masa kanak-kanak Ahmad Rifa’ie belajar ilmu agama pada orang tuanya. Kemudian setelah berusia 8 tahun ia belajar pada kakak iparnya, yaitu KH Asy’ari, pendiri dan pengasuh pondok pesantren Kaliwungu hingga ia meneruskan pelajaran ke Mekah Saudi Arabia pada tahun 1230H/1816M.

  1. Gurunya di Tanah Arab

Ulama Muda Ahmad Rifa’ie berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan meneruskan pelajaran agama di sana selama 8 tahun. Di tempat itu beliau berguru pada ulama-ulama bermadzhab Syafi’ie dan ulama-ulama bermadzhab Hanbali. Diantara gurunya yang bermadzhab Syafi’ie ialah Isa al-Barawie, nama lengkapnya Isa bin Ahmad bin Isa bin Muhammad Az-Zubairie Asy-Syafi’ie Al-Qahiri Al-Azharie. Dan gurunya yang bermadzhab Hambali ialah Syekh Faqih Muhammad bin Abdul Aziz Al-Jaisi.

Menurut KH Ahmad Sadzirin Amin, Ahmad Rifa’ie setelah dari Mekah melanjutkan pelajarannya ke Mesir selama 12 tahun. Dan di Mesir beliau sempat berguru pada ulama-ulama terkenal. Diantaranya ialah Syekh Ibrahim Al-Badjuri, seorang ulama yang alim allamah yang kitab-kitabnya banyak dibaca di pesantren-pesantren di Nusantara.

Sanad keilmuan Syekh Ahmad Rifa’ie dari gurunya di Mesir adalah sebagai berikut :

  1. Allah Subhanahu wa Taala
  2. Malaikat Jibril AS
  3. Nabi Muhammad SAW
  4. Abdullah Ibnu Abbas ra (w. 68 H)
  5. Atha bin Abi Rabah Al-Maki Al-Quraisyi (115 H)
  6. Abdul Muluk bin Juraij (125 H)
  7. Muslim bin Khalid Az-Zanji (160 H)
  8. Al-Imam Al-Mujtahid Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’ie (204 H)
  9. Syaikh Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzanie (264 H)
  10. Syaikh Ibnul Qasim utsman bi Said bin Basyar Al-Anmarie
  11. Syaikh Abil Abbas Ahmad bi Suraij (306 H)
  12. Syekh Abu Ishaq Al-Marwazie (340 H)
  13. Syekh Abu Yazid Al-Marwazie (350 H)
  14. Syekh Abu Bakar Al-Qaffal Al-Marwazie (417 H)
  15. Syaikh Abdullah bin Ysuf Al-Juwainie (438 H)
  16. Syaikh Abdul Muluk bin Abdullah Al-Juwaini (Imam Al-Haramain) (478 H)
  17. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (505 H)
  18. Syaikh Abu Fadlal bin Yahya (560 H)
  19. Syaikh Abil Qasim Abdul Karim Ar-Rifa’ie (623 H)
  20. Syekh Abdurrahman bin Syekh Abdul Ghafar Al-Quzwainie (665 H)
  21. Syekh Muhammad bi Muammad Shahibus Syamil Ash-Shaghir
  22. Syekh Al-Kamal Silar Ar-Dabili
  23. Syekh Muhyiddin An-Nawawie (676 H)
  24. Syaikul Islam Ulauddin Ibnul Athar (750 H)
  25. Al-Hafidh Abdurrahman bin Husain Al-Iraqie ((806 H)
  26. Al-Hafidz Ahmad Ibnu Hajar Al-Aqalanie (852 H)
  27. Imam Zakaria Al-Asharie ((925 H)
  28. Syaikh Syihabuddin Ar-Ramlie (981 H)
  29. Imam Ibnu Hajar Al-Haitamie (983 H)
  30. Syekh Syihabuddin Ar-Ramlie (1004 H)
  31. Syekh Ali bin Isa Al-Halabie (1010 H)
  32. Syekh Al-Sulthan Al-Muzajie
  33. Syekh Ahmad Al-Basybisyie (1019 H)
  34. Syekh Ahmad Al-Khalifie (1100 H)
  35. Syekh Asy-Syamsi Al-Khifnie (1178 H)
  36. Syaikh Abdullah bin Hijazie Asy-Syarqawie (1227 H)
  37. Syekh Ibrahim Al-Bajurie (1276 H)
  38. Syekh Ahmad Rifa’ie Al-Jawi (w.1286 H) (Syadzirin Amin, Gerakan Syekh Ahmad Rifa’ie, 1995 : 54-55)

Demikian sanad keilmuan Syekh Ahmad Rifa’ie di bidang ilmu fikih dari guru-gurunya di Mesir. Sanad lain dapat ditelusuri dari guru-gurunya di Mekah yang bermadzhab Syafi’ie, seperti Imam Al-Barawie, atau dari sanad Syekh Asy’arie Kaliwungu yang mengambil ilmu dari guru-gurunya yang bermadzhab Syafi’ie di Mekah. Kesinambungan sanad Syakh Ahmad Rifa’ie dengan ulama-ulama madzhab Syafi’ie sangat tegas dinyatakan dalam kitab-kitabnya bahwa pengajarannya itu bermadzhab Syafi’ie.

Adapun sanad ilmu tasawuf, Syekh Ahmad Rifa’ie melalui jejaring mursyid sebagai berikut :

  1. Allah SWT Jalla Jalaluh
  2. Sayidina Jibril AS
  3. Junjungan Nabi Muhammad SAW
  4. Imam Ali bin Abi Thalib ra
  5. Imam Husen bin Ali bin Abi Thalib
  6. Imam Ali Zaenal Abidin bin Husen bin Ali bin Abi Thalib
  7. Imam Muhammad Al-Baqir
  8. Imam Ja’far Ash-Shadiq
  9. Imam Musa Al-Kadhim
  10. Syekh Abul Hasan Ali bin Musa Ar-Ridha
  11. Syekh Ma’ruf Al-Karkhie
  12. Syekh Sirri Al-Saqathie
  13. Syekh Abul Qasim Al-Junidi Al-Bahdadi
  14. Syekh Abu bakar bin Jabbar Asy-Syili Al-Baghdadi
  15. Syekh Abu Fadhal Abdul Wahid At-Tamimi
  16. Syekh Abul Farij Muhammad Ath-Thurthusi
  17. Syekh Abdul Hasan Ali bin Ahmad Al-Hakarie
  18. Syekh Abu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi
  19. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Qaddasallahu Sirrahu
  20. Syekh Abdul Aziz
  21. Syekh Muhammad Al-Hatakie
  22. Syekh Syamsuddin
  23. Syekh Sarafuddin
  24. Syekh Zaenuddin
  25. Syekh Nuruddin
  26. Syekh Waliyuddin
  27. Syekh Hasanuddin
  28. Syekh Yahya
  29. Syekh Abu Bakar
  30. Syekh Abdurrahim
  31. Syekhul A’dham Ahmad Usman Al-Makkie
  32. Syekh Ahmad Rifa’ie Al-Jawie (Dr. Mukhlisin As’ad, An-Na’atul Khairiyah fi Afkari Syekh Ahmad Rifa’ie Al-Jawie)
  33. Mendirikan Pesantren Kalisalak

Sepulangnya dari Timur Tengah, KH Ahmad Rifa’ie kembali mengajar di pesantren kakak iparnya di Kaliwungu dan berdakwah keliling kota di sekitar Kendal, Semarang dan Wonosobo sehingga terkenal namanya di masyarakat. Pekerjaan ini ditekuni hingga beliau diasingkan ke Kalisalak Kabupaten Batang.

Dengan alasan stabilitas keamanan, KH Ahmad Rifa’ie diasingkan ke Kalisalak, sebuah desa yang letaknya jauh dari kota. Di Kalisalak beliau mendirikan pesantren untuk mengajarkan Al-Qur’an dan pokok-pokok agama Islam. Awalnya pesantren hanya dikunjungi santri dari daerah sekitar Batang, kemudian berkembang hingga santrinya datang dari berbagai peloksok tanah Jawa, termasuk dari tanah Pasundan (Jawa Barat).

Selain mengajar santri, beliau berdakwah keliling kota dan desa. Target yang ingin dicapai agar masyarakat memiliki iman yang benar (amrih sahe iman), dapat beribadah dengan benar (lan amrih sahe ibadah) dan dapat bermuamalah dengan benar (amrih rizki kang halal).

Gerakan ini dilaksanakan terus menerus hingga terbentuk masyarakat yang memiliki kebudayaan tersendiri. Kaum laki-laki dan perempuan diatur agar selalu berpakaian santri, laki-laki memakai kopiah, perempuan memakai kerudung. Apabila tampil di depan public harus menutupi aurat. Dalam pengajian-pengajian umum majelis laki-laki terpisah tempatnya dengan majelis perempuan, atau ditutup dengan satir. Apabila bertamu, laki-laki dan perempuan tidak berjabatan tangan. Apabila tamu mengucapkan salam, maka kaum perempuan menjawab salam dari balik pintu atau dari belakang hijab. Dalam bermuamalah selalu mengucapkan ijab-kabul. Dalam melaksanakan shalat selalu meniti-niti qiblat dan syarat-rukun. Apabila mengadakan perjalanan (musafir), maka salah seorang diantara mereka ada yang membawa kompas (pandom) untuk mengukur kiblat, begitu seterusnya. Gerakan demikian dilanjutkan oleh murid-murid hingga terbentuk komunitas santri Tarajumah yang sangat dikenal di masyarakat.

Namun sayangnya tidak lama kemudian gerakan tersebut tercium oleh pemerintah, maka setelah melalui proses peradilan yang panjang, pada tahun 1859 beliau ditangkap dan diasingkan dari Kalisalak ke Ambon. Kemudian pada tahun 1861 dipindahkan ke Minahasa, dan akhirnya wafat di sana tahun 1875. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Kiai Modjo, di kampung Jawa Tondano, berdekatan dengan makam Kiai Hasan Maulani yang berasal dari Lengkong Kabupaten Kuningan.

KH Ahmad Rifa’ie yang gigih menentang kaum penjajahan dan telah berhasil menanamkan semangat patriotisme kepada masyarakat, pada tahun 2004 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

  1. Murid-Muridnya

Murid-murid Syekh Ahmad Rifa’ie yang dapat dicatat sebagai penerus gerakannya sebanyak 51 orang. Mereka adalah generasi pertama (al-sabiquna al-awwalun) yang menyebarkan ajaran Tarajumah ke peloksok-peloksok desa.

Penyebaran yang nampak dilakukan melalui santri-santri senior yang dapat menulis huruf Arab diberi tugas untuk menyalin kitab-kitab Syekh Ahmad Rifa’ie dan hasilnya disebarkan ke masyarakat. Saat itu mencari alat tulis masih sangat sulit. Kertas dan tinta tidak mudah didapat. Akan tetapi pekerjaan yang mulia ini bagi santri dapat memberikan berkah, selain uang pengganti kertas dapat dimanfaatkan untuk biaya mondok (living cost), para santri juga dapat menjalankan tugas menyebarkan ajaran guru kepada masyarakat.

  1. Keturunannya

Di samping para santri yang menyebarkan ajaran Syekh Ahmad Rifa’ie seperti di atas, ada keturunan (dzurriyah) dari kampung Jawa Tondano yang berpotensi menjadi penyebar ajaran embah Rifa’ie. Ketika diasingkan ke Minahasa, Syekh Ahmad Rifa’ie sempat menikah dengan mantan isteri Residen bernama Nyai Rumambi. Dari pernikahannya beliau dikaruniai keturunan yang kini tersebar di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan daerah lainnya.

Keturunan beliau dapat diketahui dengan mudah, karena mereka selalu mencantumkan nama Rifa’ie di belakang namanya. Misalnya H. Abdurrahman Rifa’ie, H. Abdurrahim Rifa’ie, Sumardjono Rifa’ie, Suwarso Rifa’ie, Hj. Masrikah Rifa’ie, Hj. Mastin Rifa’ie, Hj. Ayun Rifa’ie dan sebagainya. Akan tetapi sayangnya mereka tidak paham bahasa Jawa sehingga tidak dapat memahami karya-karya Eangnya yang tertulis dalam bahasa Jawa.

Adapun keturunan beliau dari Jawa, tidak banyak diketahui orang. Padahal sebelum pergi ke Mekah, beliau telah menikah dengan seorang perempuan asli Kendal, bernama Ummul Umrah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai beberapa orang anak, antara lain Raden KH Khobar, Raden KH Juned, Raden KH Jauhari, Raden Roro Nyai Zaenah, dan Raden Roro Nyai Fathimah yang lebih dikenal dengan nama Raden Roro Nyai Umroh.

Akan tetapi keturunan selanjutnya tidak diketahui lagi, kecuali Imam Puro (Maufuro), seorang santri senior yang alim dan menjadi menantu beliau. Pasca penangkapan Syekh Ahmad Rifa’ie, Imam Puro diserahi amanat untuk meneruskan pesantren Kalisalak. Dalam beberapa lama beliau sempat menekuni pesantren. Kemudian dengan alasan keamanan, beliau pergi meninggalkan Kalisalak menuju Malaka. Beliau tinggal di sana hingga wafatnya. Dengan demikian sejarah perjalanan keluarga Syekh Ahmad Rifa’ie dari Jawa menjadi terputus. Adapun pernikahannya dengan mantan isteri Demang Kalisalak, hingga beliau diverbal di Batang dan diasingkan ke Ambon masih belum diberi keturunan (anak).

  1. Karya-Karyanya

Syekh Ahmad Rifa’ie adalah seorang Ulama Al-Jawi abad ke-19 M/13 H yang sangat produktif. Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Jawa yang dikenal dengan kitab Tarajumah. Jumlahnya mencapai 69 judul kitab, isinya mencakup ilmu ushul, fikih dan tasawuf. Diantara kitabnya yang menerangkan ilmu telu : ushul, fikih dan tasawuf, ialah Kitab Husnul Mithalab (1259 H/1842 M), Asnal Miqashad (1261 H/ 1845 M), Abyanal Hawa’ij (1265H/1848M) dan Ri’ayatul Himmah (1266H/1849M). Dan diantara kitabnya yang hanya menerangkan tema-tema tertentu (Tematik), ialah Kitab Tabyinal Ishlah (fikih munakahat, 1264H/1847M), Tasyrihatal Muhtaj (fikih mu’amalah, 1265H/1848M), Mushlihat (fikih Mawarits, 1270H/1853M). dan Wadlihah (fikih haji, 1272H/1855M). READ MORE…

  1. Pandangannya

Syekh Ahmad Rifa’ie dalam kitab-kitabnya selalu menyatakan bahwa kajiannya mengikuti madzhab Ahlussunnah wal-jamaah. Yaitu mengikuti madzhab Al-Asy’ari dan Al-Maturidi dalam ilmu ushul, mengikuti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’ie dan Hanbali dalam ilmu fikih, dan mengikuti Imam Junaidi dan Al-Ghozali dalam ilmu tasawuf. Namun demikian ada beberapa pandangannya yang dianggap kontrovirsial, yaitu pemikiran tentang rukun Islam satu dan beberapa praktek keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat.

Syekh Ahmad Rifa’ie dalam kitab Tahyirah menegaskan bahwa rukun Islam hanya satu, yaitu membaca dua jalimah syahadat. Sementara rukun-rukun yang lain, seperti shalat, zakat, puasa dan haji, diterangkan dalam kitab Syarihul Iman, sebagai kewajiban menjalankan syariat setelah mereka menjadi muslim.

Selain itu ada beberapa praktek keagamaan di masyarakat yang dianggap tidak sah, yaitu praktek shalat jumat dan praktek pernikahan. Praktek shalat jumat dinilai tidak sah dengan alasan adad al-jum’at dan khutbahnya tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh ahli fikih. Demikian pula praktek pelaksanan nikah, tidak sah, karena para penghulu diangkat oleh raja kafir dan para saksi tidak adil. Untuk mengatasi hal ini Syekh Ahmad Rifa’ie menyelenggarakan shalat jumat sendiri dan para santri yang telah menikah dinikahkan kembali di pesantren.

Sikap Syekh Ahmad Rifa’ie yang demikian menimbulkan kesalah fahaman di kalangan masyarakat. Beliau dituduh telah mengajarkan aliran sesat sehingga akhirnya dijatuhi hukuman pengasingan.

  1. Perjuangannya

Syekh Ahmad Rifa’ie hampir seluruh hidupnya diberikan untuk berjuang. Perjuangan beliau meliputi urusan dunia dan urusan akhirat (umur al-dunya wa al-dien). Setiap hari beliau membangun semangat berjuang kepada santri dan masyarakat. Beliau sangat prihatin melihat kondisi masyarakat (umat Islam) di Tanah Jawa yang hidup terbelakang, bodoh, miskin dan tertindas akibat dari ulah kaum penjajah. Beliau mencurahkan perhatiannya untuk mengubah keadaan masyarakat agar percaya diri, bermental kuat, beraqidah yang benar (amrih sahe iman), beribadah yang benar (amrih sahe ibadah), bermu’amalah yang jujur, dan terbebas dari belenggu kaum penjajah yang dzalim (ora anut maring raja kafir).

Konsep perjuangan ini disosialisasikan melalui dakwah keliling kota dan pengajian-pengajian umum. Tema-tema perjuangan, anti kolonialisme dan anti imperialisme selalu dilontarkan dalam dakwahnya. Demikian pula dalam pendidikan santri hingga militant, memiliki fanatic kebangsaan, dan membenci penjajahan. Syekh Ahmad Rifa’ie melarang santri (haram) menjadi pegawai yang ada hubungannya dengan pemerintah Belanda. Semangat juang ini dituangkan dalam tulisan dan dakwahnya. Karya-karya beliau hampir selalu ditemukan adanya kecaman terhadap pemerintah Belanda dan birokrat pribumi yang bekerja sama dengan mereka. Kata-kata raja kafir, raja dzalim, orang munafik, dan orang fasik selalu dilontarkan dalam berbagai kesempatan dan dakwahnya. Beliau memandang pekerjaan menjadi pegawai mengakibatkan kefasikan sehingga tidak dapat menjadi panutan umat (ora sah ginawe guru). Pandangan beliau yang demikian selalu menjadi pegangan murid-murid hingga di zaman kemerdekaan. Warga Rifa’iyah hingga awal masa kemerdekaan banyak yang belum berminat menjadi pegawai, disebabkan karena khawatir menjadi fasik, dan tidak sah menjadi panutan umat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed