by

Sambutan Ketua Yayasan Rifaiyah pengasuh Ponpes Ishlahul Mutaallimin pada upacara Hari Santri Nasional tahun 2018

-Nasional-20 views

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الذى هدانا لهذا, وما كنا لنهتدى لولا أن هدانا الله, وأشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه اجمعين أما بعد :

Yang Terhormat Kepala-Kepala Lembaga Pendidikan dan Pimpinan Pondok Pesantren dalam Lingkungan Yayasan Rifa’iyah Arjawinangun

Yang Terhormat para Ustadz dan Ustadah, Para guru dan Staf Pengajar

Yang Terhormat para Undangan

Santriwan dan Santriwati, Siswa dan Siswi serta Anak-anak TPQ dan PAUD yang kami Banggakan

Hadirin dan Hadirat Rahimakumullah

Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmatnya yang tercurah kepada kita sekalian, terutama pada hari ini kita dapat mengikuti upacara Hari Santri Nasional Tahun 2018 dalam keadaan sehat wal-afiat. shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta Keluarga dan Shahabatnya, dan juga kepada para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. amin ya rabbal alamin.

Hadirin yang kami Hormati

Pada hari ini kita mengadakan upacara peringatan Hari Santri Nasional dengan tujuan untuk mengenang jasa para santri dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. para santri bersama-sama dengan para kiai semenjak masa penjajahan hingga masa kemerdekaan selalu berjuang untuk bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Munculnya resolusi jihad bukanlah secara instan, melainkan didahului oleh jihad-jihad para santri dan para kiai yang sangat panjang. adagium jihad dahulu

Hari Santri Nasional
Hari Santri Nasional

digunakan oleh para santri dan para kiai untuk membakar semangat berjuang dalam rangka mengadakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Semenjak abad ke-17 dan abad ke-18 para santri nusantara lulusan timur tengah telah menanam semangat anti penjajahan dan anti penguasa kafir yang suka mabuk-mabukan, suka berjudi, dan menindas rakyat. kemudian disusul dengan perjuangan para santri dan para kiai abad ke 19 yang tidak pernah padam hingga meledak pertempuran-pertempuran besar yang terkenal dalam sejarah nasional, seperti Perang Jawa tahun 1825-1830, Perang Padri tahun 1821-1838, Geger Cilegon tahun 1888, dan masih banyak lagi pertempuran-pertempuran yang lainnya.

Pangeran Diponegoro adalah bangsawan dan kiai pendiri pesantren tegalrejo. beliau merekrut para santri dan para kiai menjadi sebuah pasukan untuk mengadakan perlawanan terhadap belanda. Diantara santri dan kiai yang direkrut menjadi pemmpin batalion adalah kiai Muslim Mohammad Khalifah dari Modjo, kiai Abdussalam dari Jombang, kiai Umar dari Semarang (ayahnya kiai Shaleh Darat), kiai Abdurrauf dari Magelang, kiai Muntaha dari Wonosobo, kiai Yusuf dari Purwakarta, Kiai Muta’ad dari Buntet Cirebon, dan kiai Hasan Besari dari Tegalsari Ponorogo (Gurunya Pendiri Gontor). Pasca penangkapan Pangeran Diponegoro para kiai itu tetap meneruskan perjuangan sesuai dengan kekuatannya masing-masing.

Penulis sejarah masterpiece islam nusantara menerangkan bahwa seruan jihad di tanah jawa pasca Perang Diponegoro juga digelorakan Oleh Kiai Rifa’ie dari Kalisalak. beliau adalah seorang ulama dan seorang santri lulusan timur tengah yang mempresentasikan pendekatan non-kooperatif dengan pihak belanda dan pihak birokrat pribumi yang suka menindas rakyat.

Periode berikutnya lahirlah pergerakan-pergerakan nasional dimana kiprah para santri dan para kiai berperan cukup besar, karena tokoh-tokohnya tidak terlepas dari dunia pesantren. misalnya Haji Samnhudi dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, mendirikan Syarikat Islam pada tahun 1912, sebuah organisasi politik yang pertama kali di Hindia Belanda, dengan menetapkan tujuan perjuangannya : menuju Indonesia merdeka. haji Samanhudi adalah santri Buntet Cirebon dan Hos Tjokroaminoto adalah keturunan kiai Hasan Besari pengasuh pesantren Tegalsari Ponorogo. begitu juga para pemimpin gerakan kemerdekaan yang lain seperti

Laskar Hizbullah dipimpin oleh KH Zaenul Arifin, Laskar Sabilillah dipimpin oleh KH Masykur, barisan kiai dipimpin oleh kiai Wahab Hasbullah, dan laskar-laskar lain dipimpin oleh para kiai dan santri nusantara.

Resolusi jihad dicetuskan pada tanggal 22 oktober 1945 oleh Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari bukan hanya untuk mengobarkan semangat jihad, tetapi juga mendesak pemerintah agar segera mengambil sikap tegas untuk melawan kekuatan asing yang ingin menggagalkan kemerdekaan Indonesia. Dari resolusi jihad ini banyaklah pertempuran-pertempuran yang melibatkan santri dan kiai dengan pekik Allahu Akbar. mereka bergabung dalam Lasykar Hizbullah, laskar sabilillah, dalam barisan kiai dan laskar-laskar lain untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dan melawan kekuatan asing yang ingin mengoyak-oyak kembali Indonesia. Sebagai puncaknya terjadi pertempuran di Surabaya pada Tanggal 10 November 1945, banyaklah santri dan kiai serta para pejuang yang gugur menjadi syuhada sehigga hari itu ditetapkan sebagai hari Pahlawan Nasional.

Hadirin yang kami hormati

Peringatan Hari Santri Nasional sekarang mengambil tema : Bersama Santri Damailah Negeri. ini berarti kaum santri sebagai penerus perjuangan para kiai dan santri di masa lalu berkewajiban untuk menjaga keutuhan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, wajib menjaga NKRI, menjaga Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945. Hari-hari ini kaum santri sedang fitnah adu domba, dan berita-berita bohong, hoax yang mengancam keutuhan Bangsa dan NKRI. Maka kaum santri tidak boleh terpancing, apa lagi turut menyebarkan berita bohong, HOAX, dan turut menyebarkan ujaran kebencian, karena hal itu mengancam kerukunan nasional dan mengancam NKRI. Allah Berfirman dalam qs al-hu$jurat, 49 : 11 :

يا ايها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسى ان يكن خيرا منهن ولا تلمزوا انفسكم ولا تنابزوا بالالقاب بئس الاسم الفسوق بعد الايمان ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekolompok orang laki-laki merendahkan sekelompok laki-laki lain, karena boleh jadi kelompok yang direndahkan itu lebih baik dari pada yang merendahkan. dan janganlah pula sekelompok perempuan merendahkan sekelompok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang direndahkan itu lebih baik dari pada yang merendahkan. dan janganlah kamu suka mencela dirimu sendiri, dan janganlah pula kamu suka memanggil (orang lain) dengan panggilan menghina, seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah (kamu) beriman. dan barang siapa yang tidak mau berhenti (bertaubat), maka mereka itulah orang-orang dzalim”.

Ayat tersebut ditujukan kepada santri dan ustadz/ustadzah, dan kepada siswa dan guru agar dapat menciptakan kedamaian di negeri yang kita cintai ini dengan cara tidak saling mencela, tidak saling membuka aib, dan tidak saling menjelek-jelekkan, karena semua itu hanya akan merendahkan martabat Islam dan kaum Muslimin. Sekarang rakyat sudah cerdas, mereka tidak mau dibohongi oleh siapapun. mereka ingin hidup damai dan ingin memiliki pemimpin yang jujur.

Hadirin Yang Kami Hormati

Sebagai pesan penting dalam upacara Hari Santri Nasional sekarang, saya ingin menyampaikan kepada segenap santri dan ustadz, dan segenap siswa dan guru bersama-sama dengan elemen masyarakat yang lain wajiblah hukumnya menjaga kerukunan bangsa dan menjaga nkri dengan keteladanan, bukan dengan slogan-slogan dan bukan dengan retorika dan perdebatan. dan segenap santri dan ustadz, dan segenap siswa dan guru, beserta elemen masyarakat yang lain wajib hukumnya menolak radikalisme dan menolak terorisme, baik bersifat idologis maupun berupa tindakan anarkis, wajib ditolak. maka bersama santri damailah negeri, dan bersama pemimpin yang jujur makmurlah rakyat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed