by

PERAN ULAMA, SANTRI DAN PELAJAR ATAU MAHASISWA DALAM MEMERANGI FAHAM RADIKALISME

-AL-ISLAM-38 views
  1. PENDAHULUAN

Agama Islam memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk memahami dan menafsirkan ajaran-ajarannya secara luas, baik terkait teologi dan hukum maupun terkait akhlak dan tasawuf. Sebagai akibatnya muncul faham-faham dan aliran-aliran keagamaan yang beragam, mulai dari yang paling jumud yang pemikirannya terbelenggu oleh teks hingga yang paling liberal yang hampir melepaskan dan mengesankan penyimpangan dari dasar-dasar Islam.

Secara garis besar faham-faham keagamaan tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang ingin mempertahankan ajaran Islam persis seperti apa yang telah dipraktekan oleh Nabi SAW, golongan ini disebut fundamentalisme. Sedangkan yang kedua ialah golongan yang ingin menerapkan Islam di tengah-tengah masyarakat yang sudah berubah dan sudah maju seperti zaman yang sedang berjalan sekarang, golongan ini sangat terbuka merespon budaya dan kemajuan yang berkembang disebut liberalisme.

Dari kedua golongan tersebut selanjutnya timbul paham-paham yang beragam hingga tak terbatas dan masing-masing paham atau madzhab mengklaim bahwa hanya madzhabnya itu yang benar (‘ala hudan min rabbihim) sementara madzhab lainnya menyimpang (‘ala dlalalatin), sesat dan menyesatkan (dlallun mudlillun). Faham keagamaan yang demikian disebut fanatisme atau ta’ashshub fie al-madzhab.

Fanatisme madzhab tersebut merupakan penyebab konflik internal umat Islam, terutama dalam madzhab teologi seperti perselisihan masa klasik antara Mu’tazilah dan Qadariyah dengan Jabariyah, Murji’ah, Jahamiyah, Asy’ariyah dan Maturidiyah. Demikian pula perselisihan faham dalam madzhab fiqh (syari’ah dan hukum) seperti terjadi dalam madzhab Ahlussunnah (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah) dengan madzhab Syi’ah (Zaidiyah, Ja’fariyah) dan Dhahiriyah. Dalam madzhab tasawuf terjadi konflik antara madzhab Ahlussunnah (Al-Junaidi, Al-Ghazali) dengan madzhab hulul (Al-Halaj, Siti Jenar). Dan dalam madzhab siyasah (politik) terjadi konflik antara madzhab Sunie dan madzhab Syi’ie. Perselisihan madzhab siyasah (politik) berkembang lebih jauh ketika diimplementasikan ke dalam politik praktis, maka konflik tersebut bukan hanya antar golongan, syi’ie dan sunnie, tetapi menjalar antar kelompok, syi’ie dan syi’ie, sunnie dan sunnie, karena masing-masing mereka mendirikan partai bukan untuk memperjuangkan sebuah idiologi, tetapi untuk membela kepentingan kelompok.

Perselisihan paham antar penganut madzhab saat ini sudah sampai pada tingkat persetruan yang membahayakan persatuan. Kelompok fundamentalis membentuk berbagai organisasi keagamaan yang dijadikan wadah perjuangannya. Mereka menuduh kelompok Islam liberal telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya, karena dianggap meragukan keabsahan sunnah Nabi sebagai landasan hukum, bahkan menuduhnya telah membuang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu hadits warisan ulama salaf kedalam tong sampah untuk kemudian menggantinya dengan bacaan kontemporer yang silsilah sanadnya berasal dari Barat (baca : non Islam), berorientasi lebih menghargai pikiran pembaca (penafsir) dari pada pemilik teks (Kalamullah/Al-Qur’an), tanpa dikaitkan dengan ilmu-ilmu dan kaidah-kaidah tafsir yang telah dibangun oleh para ulama berabad-abad lamanya.

Selain itu kelompok liberalis tidak henti-hentinya berjuang untuk memperkokoh landasan demokratisasi dengan menanamkan nilai-nilai kebebasan (liberalisme) dan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) dengan tujuan agar Islam dapat diterima oleh masyarakat global yang maju dan modern di era millenium sekarang. Gerakan liberalisme dengan paradigma tersebut bertujuan untuk mencegah merebaknya pandangan-pandangan keagamaan yang militan dan pro kekerasan yang sekarang telah menguasai wacana publik sehingga tidak terjadi kekacauan di masyarakat.

Blogspot

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed