by

Kemajuan Bangsa

KEMAJUAN BANGSA

keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan moralitas kemanusiaan luhur merupakan pondasi pilar sebuah bangsa. Islam menyebutnya sebagai al-Akhlaq al-Karimah atau al-Ihsan.

Dalam bahasa lain dikatakan bahwa Runtuhnya sebuah bangsa terlahir dari hilangnya Akhlaqul Karimah.

Ahmad Syauqi, sang pujangga Mesir berkata :

وانَّمَا الْاُمَمُ الْاَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ فَإِنْ هُمُو ذَهَبَتْ أَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

“Bangsa-bangsa akan eksis sepanjang moralitas luhur ditegakkan di dalamnya
Jika ia hilang, maka hilang dan hancurlah bangsa itu”.

Dalam bahasa Syekh Ahmad Rifa’i, pentingnya menjadi dan mengikuti orang yang alim adil yang mana ia sebagai panutan akan segala hal, termasuk akhlaq Karimah. Lamun sekeh mukallaf maring ‘alim ‘adil anuto moko yekti negoro jawi banget kerto ora nono maling kecu berandal kalunto sabab anut ing ‘alim ‘adil bener noto (baca : Abyanal hawaij).

Pemaknaan al-Akhlaq al-Karimah bukan hanya kebaikan individu, seperti kejujuran, ketulusan dan rendah hati dalam istilah lain disebut saleh personal, tetapi juga kebaikan terhadap martabat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia istilah lain disebut sebagai saleh sosial-kemanusiaan.

Senada dalam pandangan al-Imam al-Ghazali yang disebut “al-Ushul al-Khamsah”. Yaitu :
“Hifzh al-Din” : perlindungan keyakinan,
“Hifzh al-Nafs” : perlindungan hidup,
“Hifzh al-Aql” : perlindungan hak berpikir/berekspresi,
“Hifzh al-Nasl /’Irdh : perlindungan hak berkeluarga, kesehatan reproduksi / kehormatan diri,
“Hifzh al-Mal” : perlindungan harta.

Puncak Akhlaqul Karimah tak lain adalah cinta dan kasih sayang semesta atau Rahmatan Lil Al-Amin (baca Ibnu Mandzur : makna Rahmat).

Atas dasar ini, maka segala aturan atau kebijakan apapun harus sesuai dengan cita-cita kemanusiaan ini. Jika tak sesuai harapan, tujuan atau cita-cita kemanusiaan tersebut, maka sepatutnya diperbarui atau diganti .

Pertanyaannya, bagaimana memulainya?.

Saya kira kita sepakat bahwa perbaikan sosial dan bangsa harus dimulai dari Organisasi kita bernama Rifa’iyah. Di ruang inilah nasib bangsa dipertaruhkan.

Salam hangat. Nawa Syarif.

Santri ponpes Faidlul Qodir Pesanggrahan Wonokerto Pekalongan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed