by

Kecerdasan K.H. Ahmad Rifa’i

Kecerdasan K.H. Ahmad Rifa’i sebenarnya tidak perlu dibuktikan. Banyaknya karya-karya beliau secara logis menunjukkan beliau sangat cerdas, bahkan mungkin jenius. Sebab, untuk menulis 63 kitab bukan hanya perlu daya ingat yang sengat kuat tetapi juga perlu daya analisis yang sangat tajam dan ketelitian tinggi. Apalagi jika kita membaca karyanya, maka bahwa K.H. Ahmad Rifa’i ternyata bukan hanya pakar di bidang Ushuluddin, fikih, Tasawwuf, tetapi beliau juga menjadi pakar dalam bidang Bahasa dan Sastra. Dua ilmu yang terakhir ini saja pada hari ini telah menjadi spesialisisi ilmu tersendiri yang menuntut seseorang mengabiskan umur banyak sampai menjadi pakar di dalamnya.

Hanya saja, meskipun logika seperti ini mudah diterima, orang tetap merasa senang mendapatkan kisah-kisah, segmen-segmen sejarah dan cerita-cerita yang membuktikan kecerdasan seseorang. Riwayat-riwayat seperti itu jika disampaikan memang bisa memberi efek kepercayaan pada tokoh yang diceritakan, sekaligus memberi semangat kepada putra-putra kaum muslimin yang potensial karena mereka mendapati diri memiliki kemampuan yang sepertinya mirip dengan orang yang diceritakan. Inilah di antara faktor yang membuat saya berminat untuk menguak sisi kecerdasan K.H. Ahmad Rifa’i.

Salah satu bukti kecerdasan K.H. Ahmad Rifa’i adalah kemampuan beliau dalam memahami segala fan keilmuan sebelum usia balig. Tentu kita teringat bagiamana kisah masa kecil K.H. Ahmad Rifa’i yang sangat lekat dengan semangatnya mempelajari ilmu agama. Di saat teman-teman sebayanya asyik bermain-main, K.H. Ahmad Rifa’i kecil malah menghabiskan waktu dengan belajar. Ketika teman-temannya memaksa K.H. Ahmad Rifa’i kecil untuk bermain, beliu menangis, melarikan diri, lalu mengambil kitab dan membacanya. Berkat cuplikan sejarah menarik dalam kehidupan K.H. Ahmad Rifa’i inilah, Kyai Asy’ari Kaliwungu selaku Pengasuh pondok pesantren sekaligus kakak iparnya, yang waktu itu melihat kejadian tersebut, beliau memujinya dengan istilah “nabiihun” orang yang sangat cerdas dan beliau berfirasat bahwa K.H. Ahmad Rifa’i kelak akan menjadi “orang besar”.

Contoh lain kisah yang menunjukkan kecerdasan K.H. Ahmad Rifa’i adalah kemampuan beliau menulis kitab-kitab nya dalam tempo -+ 20 tahun. Yang mana kondisi sosial pada waktu itu, Pulau Jawa sedang dalam kondisi dijajah oleh Kolonial Belanda dan tak jarang K.H. Ahmad Rifa’i di tangkap karena mengkritik penguasa hingga di asingkan beberapa kali. Artinya bahwa walaupun dalam kondisi yang jauh dari kata nyaman, beliau tetap meluangkan waktu untuk menulis agar orang awam bisa mempelajari agama Islam secara mudah. Kalau penulis telusuri, saya menyimpulkan bahwa Ulama’ Jawa yang Produktif menulis kitab dengan skala palinh banyak pada sa’at itu tak lain adalah K.H. Ahmad Rifa’i.

Contoh lain kecerdasan K.H. Ahmad Rifa’i adalah ingatan beliau terhadap kitab-kitab karya salafussholih. Tahukah Anda bahwa disemua kitab K.H. Ahmad Rifa’i tak lepas dari Al-Qur’an, hadits, dan Kalam para Ulama’. Kalau kita kroscek semua tulisan yang berwarna merah (berisi Al-Qur’an, hadist, dan kutipan ulama’ dengan bahasa Arab) di maktabah syamillah, tentu kita menyimpulkan bahwa K.H. Ahmad Rifa’i mayoritas mengutip dari kitab-kitab babon ulama’ Ahlussunah wal jama’ah baik yang tebal ataupun tipis. Ini menunjukkan bahwa hafalan beliau sangat banyak yang kemudian dituangkan didalam karya karyanya.
رحم الله شيخ احمد الرفاعي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Salam hangat, Muhammad Nawa Syarif

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed