by

K.H. Ahmad Rifa’i, Pesantren, Nasionalisme

Sejarah mencatat bahwa jauh ber abad-abad sebelum negara Indonesia berdiri, pesantren sudah lebih dahulu eksis dan tumbuh berakar kuat di Nusantara sebelum lembaga pendidikan formal diinisiasi. Meski tanpa dukungan finansial dari pemerintah, sering kali dicap sebagai pendidikan tradisional dengan tempat yang kumuh dan terbelakang bahkan distigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan statis. Anggapan semacam itu menurut penulis merupakan pandangan yang dangkal/tidak kritis.

Ki Hadjar Dewantara yang dinobatkan sebagai bapak pendidikan Indonesia pun mengakui bahwa model pendidikan yang ideal adalah pesantren. Sebab di pesantren, praktik pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga transfer nilai, menanamkan keteladanan dan menjaga mata rantai keilmuan hingga Rasulullah SAW. Pengaruh Doa serta tirakat para kyai yang menjadi pupuk spiritual menjadi salah satu sarana keberhasilan para santri. Bukan hanya itu, jangan anggap remeh kecintaan orang-orang pesantren atas tanah airnya.

Sikap dan kesadaran semacam ini sudah mengakar dalam jiwa kesantrian sejak jauh sebelum Indonesia merdeka. Sikap lugas KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, dalam berjuang mempertahankan tanah pusakanya dan melawan kolonial Belanda, merupakan contoh yang nyata. Dengan kealiman dan sanad keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan setelah 10 tahun di Makkah 13 tahun di Mesir, K.H. Ahmad Rifa’i memilih dengan kesungguhan hati yang dalam untuk mengabdikan diri merawat tanah kelahiran dari rong-rongan kolonial Belanda.

Tipe gerakan K.H. Ahmad Rifa’i dalam membela tanah air beda halnya dengan pangeran Diponegoro yang lebih menggunakan senjata. Beliau bergerak dengan mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan dari segala bentuk penindasan tanpa harus mengorbankan mahalnya darah setiap jiwa.

Dengan dibuktikannya membangun pesantren, dakwah dari rumah ke rumah serta mengarang tak kurang 65 judul kitab yang mudah dipahami dengan baik bagi orang awam. Bukan hanya itu, Ia juga semangat membina kaum yang termarjinalkan, para petani, buruh dll yang dianggap remeh oleh kolonial dan menentang para priyayi dan kyai yang berafiliasi dengan Kolonial Belanda. Semua itu dilakukan tak lain dalam rangka semangat merawat tanah air walau berkali kali Ia difitnah, masuk penjara, diasingkan hingga meninggal di tanah buangan Manado Sulawesi Utara.

Dengan diketuknya UU Pesantren, kami sebagai yang mewakili dari golongan santri penerus perjuangan K.H. Ahmad Rifa’i berharap negara memahami lebih dalam mengenai dunia pesantren dan memberikannya ruang untuk terus tumbuh dan berkembang dengan habitus khasnya, tanpa harus ketinggalan kereta zaman yang terus bergerak dinamis.

Pekalongan, 10 Oktober 2019
Salam hangat,

Nawa Syarif, S.Pd.

(Pengurus PP AMRI)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed