by

K.H. Ahmad Rifa’i dan tradisi Ulama’ salaf dalam menulis kitab.

Para ulama yang dinobatkan sebagai waratsatul Ambiya mengemban tanggung jawab yang sangat besar. Disamping menjaga khasanah keilmuan juga bertugas transfer ilmu pengetahuan kepada generasi yang akan datang. Demi memastikan tercapainya tujuan mulia itu, Berbagai upaya Ia lakukan termasuk diantaranya mendokumentasikan ilmu-ilmu yang Ia miliki.  Baik berupa tulisan-tulisan tangan mereka yang kemudian dicetak, diterbitkan dan dapat kita nikmati sebagai karya ilmu pengetahuan yang membantu kita memahami kehidupan dalam naungan agama.

Kehati-hatian para ulama’ dalam menulis Menjadi suatu yang sifatnya sangat sakral. Dibenak mereka, menulis bukan hanya sekedar mencurahkan ilmu kedalam tulisan saja. akan tetapi  rasa takut kepada Allah juga meminta petunjuk demi menjamin ke shohihan yang ia tulis merupakan kunci utama.

K.H. Ahmad Rifa’i menyampaikan dalam sya’ir nya “Uripe ilmu kelawan amal, uripe amal kelawan ikhlas” yang artinya kurang lebih, hidupnya ilmu karena amal (mengamalkan ilmu tersebut), sedangkan hidupnya amal karena ikhlas. Banyak sekali kisah bagaimana tirakat para ulama’ dalam menuliskan karyanya. Diantaranya :

1. Imam Bukhari setiap kali akan menulis satu hadits, beliau mandi dan melakukan shalat sunnah dua rakaat (baca : siyar a’lam Al Nubala’ lidzahabi)
2. Imam An-Nawawi yang selalu Istiqomah sholat istikharah sebelum menulis Majmu’ Syarh al-Muhaddzab.
3. Ibnu Hazm Al-Andalusiy, shalat istikharah terlebih dahulu sebelum menulis kitabnya yang berjudul al-Muhalla bi al-Âtsâr.

Dalam hal keikhlasan, para ulama dahulu tidak bisa diragukan keikhlasannya. Mereka tentunya tidak pernah mengharapkan sepeserpun royalti dari hasil kitab-kitab yang ia tulis. sehingga kitab kitab tersebut masih eksis dan dibaca oleh jutaan orang. Walaupun mereka sudah meninggal berabad-abad silam.bahkan diantara mereka ada yang mempunyai cara khusus untuk menguji keikhlasannya.

Syekh ash Shonhaji yang diriwayatkan oleh Syeikh Ismail Bin Musa Al-Hamidi Al-Maliki dalam Khasyiyah ‘ala Al-Kafrawi, bahwa; ketika Syeikh Ash-Shonhaji selesai mengarang kitab jurumiyah beliau lantas pergi ke laut dan melemparkan karyanya tersebut, sambil berkata:

إن كان خالصا لله فلا يبل

“Jika kitab tersebut ikhlas (disusun) karena Allah Ta’ala, maka ia tidak akan basah.”

Dan benar saja, kitab tersebut masih utuh tanpa basah dan tanpa rusak. Hingga akhirnya saat ini kitab karya beliau itu bisa kita baca sampai sekarang.

Salah satu ulama’ Nusantara yang produktif menulis kitab diantaranya adalah K.H. Ahmad Rifa’i Kendal. Ulama’ yang hidup di abad 18 itu, Tercatat kurang lebih menulis hingga 65 judul kitab dan sebagian besar berbentuk sya’ir Arab pegon. Ia Sudah barang  tentu Tak bisa diragukan lagi dalam hal tirakat dan keikhlasan dalam hal menulis. Hidup dalam penuh tekanan kolonial Belanda tak mengurangi sedikitpun semangat Amar ma’ruf nahi mungkar billisan dan tulisan, meneruskan risalah kenabian dengan penuh kasih sayang tanpa pertumpahan darah walaupun dirinya di buang dan dipenjara berkali-kali.

Meskipun kitab-kitab beliau di rampas oleh Belanda (sa’at ini ada di salah satu museum di Leaden Belanda) juga dirampas para pemerintah Indonesia yang dholim pada sa’at itu hingga tragedi pembakaran di Demak, namun atas kuasa Allah, hingga sa’at ini para generasi penerus K.H. Ahmad Rifa’i, menghafalkan dan menulis kembali serta dibaca juta’an warga Indonesia.

Perilaku-perilaku para ulama inilah yang semestinya menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa berkarya demi kepentingan umat dengan hati-hati, ikhlas dan disertai rasa takut kepada Allah SWT.

Salam hangat,

Muhammad Nawa syarif

(Santri ponpes faidlul Qodir, Mts Rifa’iyah Wonokerto Pekalongan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed