by

Hikmah Work Form Home (Covid-19)

“Work from home membuat saya punya kesempatan lebih banyak untuk mempelajari kembali kitab-kitab karya Hadratussyaikh K.H. Ahmad Rifa’i yang dijadikan sebagai rujukan oleh warga Rifa’iyah selaku pengikutnya”. Kalimat tersebut seharusnya tertancap dalam otak pemuda penerus gerakan K.H. Ahmad Rifa’i dalam situasi mengkhawatirkan sa’at ini.

K.H. Ahmad Rifa’i memudahkan kita untuk mendalami keilmuan sebagai bekal untuk melakukan ibadah dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Beberapa contoh diantaranya adalah bagaimana membaca Alqur’an dengan baik dan benar, beliau menuliskan kitab tahsinah. Bagaimana cara bermu’amalah sesuai tuntunan Syara’, beliau menuliskan kitab tasyrihatal muhtaj. Begitu juga permasalahan sholat Jum’at, pernikahan, hingga talqin mayit (baca : munawirul himmah)

Bagi saya, semua kitab K.H. Ahmad Rifa’i yang berjumlah tak kurang dari 65 kitab bukan sekedar kitab biasa. Kitab nan penuh keramat, sesiapa yang membaca dengan kehadiran hati yang bersih, segala problem kehidupan yang dihadapi akan bisa terselesaikan kelawan pitulunge Allah lan berkah kanjeng nabi Muhammad ugo Hadratussyaikh K.H. Ahmad Rifa’i.

Sedikit pengalaman penulis ketika sungkem (baca : silaturahim) pada salah satu kyai Sepuh di Banjarnegara. Konon ketika warga setempat di uji dengan sebuah penyakit, hal yang pertama dilakukan adalah sowan terhadap kyai, yang kemudian kyai tersebut dengan mantab memberikan segelas air putih yang sebelumnya dibacakan kitab takhyirah Mukhtasar, Bi idznillah Allah memberikan kesembuhan terhadap seseorang itu. Hal yang demikian itu terjadi bukan hanya sekali ataupun dua kali, akan tetapi berkali-kali. Sehingga akan mendapatkan pesona yang luar biasa ketika kita mengunjungi desa tersebut. Tak jarang kita temukan warga Muhammadiyah atapun Nahdlatul Ulama’ yang hafal kitab takhyirah Mukhtasar apalagi warga Rifa’iyah.

Ketika kongres AMRI ke IV di Indramayu, Rekan Abdul Qoyum selaku ketua umum pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah berpesan kepada kita semua selaku pemuda generasi penerus ajaran K.H. Ahmad Rifa’i agar selalu memperbanyak baca baca dan baca. Saya teringat dan hafal betul petikan syair K.H. Ahmad Rifa’i dalam kitabnya :

“Ojo kawilang anak murid Kito, mengo saking tarajumah Tan nejo anuto”

Begini pemaknaan penulis dalam memaknai sya’ir diatas : Jangan berharap engkau diakui sebagai anak murid K.H. Ahmad Rifa’i, Jika tidak mau membaca dan atau mengikuti ajaran ajaran Beliau yang tertuang didalam kitab-kitabnya.

Pertanyaan sekarang yang perlu dijawab masing-masing kita selaku anggota ataupun pengurus AMRI :

Sudahkah kita semua membaca, memahami, menganalisa, mengamalkan kitab K.H. Ahmad Rifa’i?

Pantaskah kita mengakui ataupun diakui sebagai santri Beliau, sedangkan kita tak mau membaca, memahami, menganalisa mengamalkannya?

Semoga Rahmat Allah tercurahkan kepada kita semua.

ponpes faidlul Qodir, Mts Rifa’iyah Wonokerto.

  • Muhammad Nawasyarif
    (Kaderisasi pimpinan pusat AMRI)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed