by

Dalam Rangka Mengenang Pahlawan Nasional pada 10 November

Allah berfirman QS.Fathir: 28
انما يخشی الله من عباده العلماء..
“Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada Nya hanyalah para Ulama.”

Rasulullah SAW bersabda:
العلماء ورثۃ الانبياء…
“Para Ulama adalah pewaris Para Nabi.”

Pengakuan Pemerintah RI kepada Almaghfur lah KH.AHMAD RIFA’I sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentunya sangat menggembirakan warga Rifa’yah sebagai santri2nya dan murid2nya yang meneruskan dan menghidupkan ajaran Tarjumah yang beliau kembangkan.

KH.Ahmad Rifa’i (1786-1870 M), sebagai GURU PERTAMA,المعلم الاول bagi Santri Tarjumah atau Gerakan Rifa’iyah dan diakui sebagai Ulama Pejuang yang gigih menentang Belanda sebagai penjajah.
Menurut KH.Ahmad Rifa’i: pemerintah Belanda adalah pemerintah kafir dan orang2 yang mengabdi kepadanya termasuk fasiq.
Sementara itu masyarakat jawa dalam praktek ibadahnya dipandang oleh KH.Ahmad Rifa’i masih terlalu banyak yang kurang syarat rukunnya.
Gejala2 yang muncul di tengah2 masyarakat itu membangkitkan kesadaran KH.Ahmad Rifa’i untuk mengembangkan cara dakwah yang bertujuan untuk membentengi diri dan gerakan Rifa’iyah dari perlakuan pihak Belanda.
Cara dakwah yang dimaksud ialah:

1. Menghimpun anak2 muda untuk dipersiapkan menjadi kader2 Da’i yang tangguh.

2. Menghimpun orang2 dewasa laki2 dan perempuan dari berbagai profesi, untuk menjadi penyokong utama dalam segi pendanaan dan sekaligus juga sebagai pelaksana dakwah.
3. Menghimpun kader2 Da’i dari berbagai daerah untuk dididik dan dilatih sebagai Da’i/Muballigh yang akan diterjunkan kembali di daerahnya masing2.

4. Menciptakan kesenian rebana/terbang disertai syair2 yang diambil dari kitab-kitab Tarjumah.
Tujuannya sudah tentu untuk membentengi diri dari pengaruh masuknya budaya asing oleh penjajah Belanda yang ingin mengganti budaya Jawa.

5. Pada hari2 tertentu mengadakan kegiatan kunjungan ke penduduk di kota2 wilayah kecamatan dan daerah2 pedalaman untuk memperbaharui hal2 dianggap perlu dan yang tidak sesuai dengan pemahaman ajaran beliau.

sebagai penutup: “Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya.”

“Santri/Murid yang bermartabat adalah Santri/Murid yang mengahargai jasa Kyainya/Gurunya.”

Penulis H.M. Jured (Dalam rangka mengenang Pahlawan Nasional pada 10 Nov)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed