by

ANGGARAN RUMAH TANGGA RIFA’IYAH

BAB I

KEANGGOTAAN

 Pasal 1

Anggota Rifa’iyah ialah umat Islam murid dan simpatisan dakwah dan perjuangan Kyai Haji Ahmad Rifa’ie yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Telah akil baligh atau sudah nikah.
  2. Menyatakan diri menjadi anggota Rifa’iyah dengan ikhlas.
  3. Menerima segala ketentuan yang diatur dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan peraturan-peraturan lain yang ditetapkan organisasi.
  4. Sanggup mengikuti kegiatan yang ditentukan organisasi.

BAB II

HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA

 Pasal 2

Setiap anggota berhak :

  1. Memperolah perlakuan yang sama.
  2. Memperoleh perlindungan, bimbingan dan pembelaan dari organisasi.
  3. Mengeluarkan pendapat dan mengajukan usul dan saran-saran.
  4. Memilih dan dipilih.

 Pasal 3

 Setiap anggota berkewajiban :

  1. Memahami dan melaksanakan hasil-hasil keputusan Muktamar.
  2. Bersikap setia dan loyal terhadap semua kebijaksanaan yang ditetapkan oleh organisasi.
  3. Menghadiri musyawarah dan rapat-rapat.

BAB III

PEMBERHENTIAN ANGGOTA

 Pasal 4

Anggota berhenti karena :

  1. Meninggal dunia.
  2. Atas permintaan sendiri.
  3. Anggota-anggota Bagian

BAB IV

SUSUNAN DAN WEWENANG PIMPINAN

 Pasal 5

Susunan Pimpinan Pusat terdiri dari :

  1. Ketua Umum
  2. Ketua-ketua
  3. Sekretaris Umum
  4. Sekretaris-sekretaris
  5. Bendahara
  6. Wakil-wakil Bendahara
  7. Ketua-ketua Biro
  8. Anggota-anggota Biro.

 Pasal 6

Susunan Pimpinan Wilayah terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Wakil-wakil Ketua
  3. Sekretaris
  4. Wakil-wakil Sekretaris
  5. Bendahara
  6. Wakil-wakil Bendahara
  7. Ketua-ketua Bidang
  8. Anggota-anggota Bidang.

Pasal 7

Susunan Pimpinan Daerah terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Wakil-wakil Ketua
  3. Sekretaris
  4. Wakil-wakil Sekretaris
  5. Bendahara
  6. Wakil-wakil Bendahara
  7. Ketua-ketua Bagian
  8. Anggota-anggota Bagian.

Pasal 8

Susunan Pimpinan Cabang terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Wakil Ketua
  3. Sekretaris
  4. Wakil Sekretaris
  5. Bendahara
  6. Wakil Bendahara
  7. Ketua-ketua Seksi
  8. Anggota-anggota Seksi.

Pasal 9

Susunan Pimpinan Ranting terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Wakil Ketua
  3. Sekretaris
  4. Bendahara
  5. Ketua-ketua Kelompok
  6. Anggota-anggota Kelompok.

Pasal 10

Pimpinan Pusat berwenang untuk menentukan kebijaksanaan umum dalam rangka melaksanakan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Program Kerja, Keputusan-keputusan Muktamar, Musyawarah Kerja Nasional, Musyawarah Pimpinan dan tugas-tugas organisasi.

Pasal 11

Dalam melaksanakan kebijaksanaan umum organisasi, Pimpinan Pusat merupakan badan pelaksana yang bersifat kolektif.

Pasal 12

Pimpinan Pusat berkewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban kepada Muktamar.

Pasal 13

Pimpinan Wilayah berwenang untuk menentukan kebijaksanaan dalam rangka melaksanakan amanat organisasi yang telah digariskan dalam muktamar, musyawarah kerja nasional, musyawarah pimpinan, dan musyawarah kerja tingkat wilayah.

 Pasal 14

Dalam menjalankan kebijaksanaan organisasi, pimpinan wilayah merupakan badan yang bersifat kolektif.

Pasal 15

Pimpinan Wilayah berkewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban kepada musyawarah wilayah.

 Pasal 16

Pimpinan Daerah berwenang untuk menentukan kebijaksanaan dalam rangka melaksanakan amanat organisasi yang telah digariskan dalam muktamar, musyawarah kerja nasional, musyawarah pimpinan, musyawarah wilayah, musyawarah kerja tingkat wilayah, musyawarah daerah, dan musyawarah kerja daerah.

 Pasal 17

Dalam menjalankan kebijaksanaan organisasi Pimpinan Daerah merupakan badan yang bersifat kolektif.

 Pasal 18

Pimpinan Daerah berkewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban kepada musyawarah daerah.

Pasal 19

Pimpinan Cabang berwenang untuk menentukan kebijaksanaan dalam rangka melaksanakan amanat organisasi yang telah digariskan dalam muktamar, musyawarah kerja nasional, musyawarah pimpinan, musyawarah wilayah, musyawarah kerja tingkat wilayah, musyawarah daerah, musyawarah kerja daerah musyawarah cabang, dan musyawarah kerja cabang.

 Pasal 20

Dalam menjalankan kebijaksanaan organisasi, Pimpinan Cabang merupakan badan yang bersifat kolektif.

 Pasal 21

Pimpinan Cabang berkewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban kepada musyawarah cabang.

Pasal 22

Pimpinan Ranting berwenang untuk menentukan kebijaksanaan dalam rangka melaksanakan amanat organisasi yang telah digariskan oleh muktamar, musyawarah kerja nasional, musyawarah pimpinan, musyawarah wilayah, musyawarah kerja tingkat wilayah, musyawarah daerah, musyawarah kerja daerah, musyawarah cabang, musyawarah kerja cabang, musyawarah ranting, dan musyawarah kerja ranting.

Pasal 23

Dalam menjalankan kebijaksanaan organisasi, Pimpinan Ranting merupakan badan yang bersifat kolektif.

Pasal 24

Pimpinan Ranting berkewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban kepada musyawarah ranting.

BAB V

SUSUNAN DAN WEWENANG DEWAN SYURO

Pasal 25

Disamping pimpinan organisasi di semua tingkatan, dibentuk Dewan Syuro.

Pasal 26

Susunan Dewan Syuro Tingkat Pusat terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Sekretaris
  3. Anggota sebanyak-banyaknya 11 orang.

Pasal 27

Susunan Dewan Syuro Tingkat Wilayah terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Sekretaris
  3. Anggota sebanyak-banyaknya 9 orang.

 Pasal 28

Susunan Dewan Syuro Tingkat Daerah terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Sekretaris
  3. Anggota sebanyak-banyaknya 7 orang.

 Pasal 29

Susunan Dewan Syuro Tingkat Cabang terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Sekretaris
  3. Anggota 5 orang.

 Pasal 30

Susunan Dewan Syuro Tingkat Ranting terdiri dari :

  1. Ketua
  2. Sekretaris
  3. Anggota 3 orang.

Pasal 31

Dewan Syuro berwenang untuk memberikan nasehat, memberikan pertimbangan terhadap suatu kebijaksanaan dan meratifikasi keputusan pimpinan organisasi dalam tingkatannya masing-masing baik diminta atau tidak minta.

 BAB VI

PERSYARATAN PIMPINAN ORGANISASI

DAN DEWAN SYURO

 Pasal 32

Yang dipilih menjadi Pimpinan Organisasi dan Dewan Syuro ialah yang memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
  • Setia kepada Pancasila dan UUD 1945
  • Memiliki jiwa dan semangat pengabdian yang tinggi terhadap perjuangan Rifa’iyah
  • Mampu bekerja sama secara kolektif dan siap mengembangkan peranan Rifa’iyah sebagai organisasi social keagamaan yang mengemban amanat untuk mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.
  • Menjadi panutan umat.
  • Mendapat dukungan umat.
  • Melestarikan kesinambungan dakwah dan perjuangan Kyai Haji Ahmad Rifa’ie
  • Berakhlak mulia.
  • Bersedia mengabdi kepada Rifa’iyah dengan ikhlas.
  • Telah berpengalaman dalam berorganisasi.

 BAB VII

MASA KHIDMAT PIMPINAN ORGANISASI

DAN DEWAN SYURO

 

Pasal 33

Pimpinan Organisasi dan Dewan Syuro dipilih, ditetapkan, dan disahkan untuk masa khidmat selama 5 tahun.

 

 

Pasal 34

  • Pimpinan Pusat, dan Dewan Syuro Pusat dipilih dan ditetapkan oleh muktamar.
  • Pimpinan Wilayah dan Dewan Syuro Wilayah dipilih oleh musyawarah wilayah dan disahkan oleh Pimpinan Pusat.
  • Pimpinan Daerah dan Dewan Syuro Daerah dipilih oleh musyawarah daerah dan disahkan oleh Pimpinan Wilayah.
  • Pimpinan Cabang dan Dewan Syuro Cabang dipilih oleh musyawarah cabang dan disahkan oleh Pimpinan Daerah.
  • Pimpinan Ranting dan Dewan Syuro Ranting dipilih oleh musyawarah ranting dan disahkan oleh Pimpinan Cabang.

BAB VIII

PESERTA MUKTAMAR, MUSYAWARAH, DAN RAPAT

 Pasal 35

Musyawarah dan rapat-rapat terdiri dari :

  1. Muktamar
  2. Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas)
  3. Musyawarah Pimpinan (Muspim)
  4. Musyawarah Wilayah (Muswil)
  5. Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil)
  6. Musyawarah Daerah (Musda)
  7. Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda)
  8. Musyawarah Cabang (Muscab)
  9. Musyawarah Kerja Cabang (Mukercab)
  10. Musyawarah Ranting (Musra)
  11. Musyawarah Kerja Ranting (Mukra)
  12. Rapat Pimpinan (Rapim)
  13. Rapat Pengurus Harian
  14. Rapat Pengurus Pleno.

 Pasal 36

  • Muktamar memegang kekuasaan tertinggi organisasi diselenggarakan untuk :
    1. menetapkan, menyempurnakan, dan mengubah AD – ART
    2. menilai pertanggungjawaban Pimpinan Pusat
    3. menyusun program umum
    4. memilih dan menetapkan personalia Pimpinan Pusat
    5. memilih dan menetapkan Dewan Syuro
    6. menetapkan keputusan-keputusan lainya.
  • Musyawarah Kerja Nasional diselenggarakan untuk menjabarkan hasil-hasil keputusan muktamar.
  • Musyawarah Pimpinan diselenggarakan untuk menetapkan keputusan-keputusan kecuali yang menjadi wewenang muktamar.
  • Musyawarah Wilayah diselenggarakan untuk :
  1. menilai pertanggungjawaban Pimpinan Wilayah
  2. menyusun program umum
  3. memilih personalia Pimpinan Wilayah (PW)
  4. memilih Dewan Syuro
  5. menetapkan keputusan-keputusan lainya
  • Musyawarah Kerja Wilayah diselenggarakan untuk menjabarkan hasil-hasil keputusan musyawarah wilayah.
  • Musyawarah Daerah diselenggarakan untuk :
  1. menilai pertanggungjawaban Pimpinan Daerah
  2. menyusun program umum
  3. memilih personalia Pimpinan Daerah (PD)
  4. memilih Dewan Syuro
  5. menetapkan keputusan-keputusan lainya
  • Musyawarah Kerja Daerah diselenggarakan untuk menjabarkan hasil-hasil keputusan musyawarah daerah.
  • Musyawarah Cabang diselenggarakan untuk :
  1. menilai pertanggungjawaban Pimpinan Cabang
  2. menyusun program umum
  3. memilih personalia Pimpinan Cabang (PC)
  4. memilih Dewan Syuro
  5. menetapkan keputusan-keputusan lainya
  • Musyawarah Kerja Cabang diselenggarakan untuk menjabarkan hasil-hasil keputusan musyawarah cabang.
  • Musyawarah Ranting diselenggarakan untuk :
  1. menilai pertanggungjawaban Pimpinan Ranting
  2. menyusun program umum
  3. memilih personalia Pimpinan Ranting
  4. memilih Dewan Syuro
  5. menetapkan keputusan-keputusan lainya

(11)    Rapat Kerja Ranting diselenggarakan untuk merumuskan langkah-langkah pelaksanaan program di desa / kelurahan.

(12)   Rapat Pengurus Pleno dan Pengurus Harian diselenggarakan untuk menentukan kebijaksanaan umum sesuai dengan tingkatannya msing-masing.

Pasal 37

  • Muktamar dihadiri oleh :
    1. Dewan Syuro
    2. Pimpinan Pusat
    3. Pimpinan Wilayah
    4. Pimpinan Daerah
    5. Pimpinan Cabang
    6. Pimpinan Ranting
  • Musyawarah Kerja Nasional dihadiri oleh :
  1. Dewan Syuro
  2. Pimpinan Pusat
  3. Unsur Pimpinan Wilayah
  4. Unsur Pimpinan Daerah
  5. Unsur Pimpinan Cabang
  • Musyawarah Pimpinan dihadiri oleh :
  1. Unsur Dewan Syuro
  2. Unsur Pimpinan Pusat
  3. Unsur Pimpinan Wilayah
  4. Unsur Pimpinan Daerah
  • Musyawarah Wilayah dihadiri oleh :
  1. Unsur Pimpinan Pusat
  2. Pimpinan Wilayah
  3. Dewan Syuro
  4. Unsur Pimpinan Daerah
  5. Unsur Pimpinan Cabang
  6. Unsur Pimpinan Ranting
  • Musyawarah Kerja Wilayah dihadiri oleh :
  1. Unsur Dewan Syuro
  2. Pimpinan Wilayah
  3. Unsur Pimpinan Daerah
  4. Unsur Pimpinan Cabang
  • Musyawarah Daerah dihadiri oleh :
  1. Unsur Pimpinan Wilayah
  2. Dewan Syuro
  3. Pimpinan Daerah
  4. Unsur Pimpinan Cabang
  5. Unsur Pimpinan Ranting
  • Musyawarah Kerja Daerah dihadiri oleh :
  1. Unsur Pimpinan Wilayah
  2. Unsur Dewan Syuro
  3. Unsur Pimpinan Daerah
  4. Unsur Pimpinan Cabang
  • Musyawarah Cabang dihadiri oleh :
  1. Unsur Pimpinan Daerah
  2. Dewan Syuro
  3. Pimpinan Cabang
  4. Unsur Pimpinan Ranting
  • Musyawarah Kerja Tingkat Cabang dihadiri oleh :
  1. Unsur Dewan Syuro
  2. Pimpinan Cabang
  3. Unsur Pimpinan Ranting

(10)   Musyawarah Ranting dihadiri oleh :

  1. Unsur Pimpinan Cabang
  2. Dewan Syuro
  3. Para anggota
  4. Pimpinan Ranting

(11)    Musyawarah Kerja Tingkat Ranting dihadiri   oleh :

  1. Unsur Dewan Syuro
  2. Pimpinan Ranting

(12)   Rapat Pengurus Paripurna untuk setiap tingkatan dihadiri oleh :

  1. Dewan Syuro dalam tingkatannya masing-masing
  2. Pimpinan organisasi sesuai dengan tingkatannya

(13)   Rapat Pengurus Harian untuk setiap tingkatan dihadiri oleh :

  1. Ketua dan wakil-wakil ketua
  2. Sekretaris dan wakil-wakil sekretaris
  3. Bendahara dan wakil bendahara

Pasal 38

Dalam muktamar, musyawarah wilayah, musyawarah daerah, musyawarah cabang, dan musyawarah ranting dapat dihadiri oleh lembaga-lembaga dan unsur-unsur atau wakil-wakil organisasi sosial keagamaan sebagai peninjau.

BAB IX

HAK BICARA DAN HAK SUARA

 Pasal 39

  • Pada dasarnya hak bicara adalah hak perorangan setiap peserta yang penggunaanya akan diatur dalam tata tertib.
  • Pada dasarnya hak suara dipergunakan dalam pengambilan keputusan adalah dimiliki oleh setiap peserta yang penggunaanya akan diatur lebih lanjut dalam tata tertib.

BAB X

KEUANGAN

 Pasal 40

Dana organisasi diperoleh dari :

  1. iuran anggota yang diberikan secara suka rela.
  2. infaq, wakaf, dan shadaqah
  3. usaha-usaha lain yang halal dan tidak mengikat.

Pasal 41

  • Hal-hal yang menyangkut keuangan baik, pemasukan maupun pengeluaran wajib dipertanggungjawabkan oleh Pimpinan Organisasi dalam forum-forum yang akan diatur dalam peraturan organisasi.
  • Khusus dalam penyelenggaraan muktamar, musyawarah wilayah, musyawarah daerah, musyawarah cabang, musyawarah ranting dan musyawarah-musyawarah lainya semua pemasukan dan pengeluaran wajib dipertanggungjawabkan oleh panitia.

BAB XI

PENUTUP

 Pasal 42

Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur dalam peraturan organisasi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed